Dari Kakak

By Luthfia Syahnaz - 21.31

Salah nggak sih kalau seorang kakak ingin yang terbaik untuk adiknya? Aku pikir semua kakak pasti akan ingin adiknya menjadi lebih baik dari dirinya, dalam konteks apapun. Karena seperti yang seringkali seorang kakak katakan kepada adiknya bahwa "Saya pernah jadi kamu, tapi kamu belum pernah jadi saya". Dalam hal pengalaman sang kakak sudah barang tentu merasakan lebih banyak dan lebih dahulu daripada adiknya. Sebagai seorang kakak, aku benar-benar ingin membuka pikiran adikku yang saat ini sedang duduk di bangku kelas 12 dimana setelah ini dia akan menempuh pendidikan tinggi. Aku sama sekali tidak menginginkan dia merasakan apa yang aku rasakan. Well, aku masuk di salah satu PTN, lewat jalur undangan atau SNMPTN kala itu, entah harus menyebutnya sebagai keberuntungan atau ketidakberuntungan, aku masuk di jurusan pilihan ketiga pada universitas pilihan keduaku. Bukannya tidak bersyukur tapi rasanya kuliah di tempat yang bukan cita-citamu itu benar-benar tidak enak. Dan membuatku selalu menggemakan kata-kata ini dalam pikiranku
"Kamu harus melakukan apa yang harus kamu lakukan, bukan apa yang kamu inginkan", tersiksa lahir batin.
Dan aku nggak pengen adikku ngerasain itu. Aku pengen dia kejar cita-citanya jadi tentara atau pilot. Apapun tantangannya gimanapun proses seleksinya. Aku cuma pengen dia ga nyesel nantinya kalo ga pernah nyoba buat dapetin kesempatan melakukan hal yang paling dia inginkan. Pengen banget menyadarkan dia kalo mengejar mimpi itu ga pernah salah. Dan pengen dia ngerasain gimana bangganya kalau bisa masuk sekolah/kuliah di tempat yang dia dambakan. Gimana rasanya jalanin hari penuh semangat, bisa hidup dalam mimpinya. Tentunya hal itu juga jadi impian semua orang kan? Dulu aku pernah merasakannya, setidaknya sampai aku kuliah :" tapi rasanya benar-benar kenangan yang tak terlupakan. Aku merasa hidup, punya tujuan, ada mimpi yang harus dikejar. Ya-dulu-pernah-selama-aku-bisa-mengingatnya.
Mungkin memang kadang kita takut untuk memperjuangkan mimpi kita, begitu pula aku, pernah mengalaminya. Disaat kita menyerah atas apa yang paling kita inginkan, saat itulah hati kita sakit, kalau hati kita bisa berekspresi dia pasti sudah menangis karena kita menyerah dan karena kita tidak mendengarkannya.
Padahal keinginan hati kita adalah keinginan semesta, dia menjadi petunjuk hidup kita, di dalam buku The Alchemist-nya Paulo Coelho, itu disebut legenda pribadi, hal yang selalu ingin kita lakukan di dunia dan itulah misi kita di dunia yang fana ini. Kita diciptakan untuk itu, dan dulu kita mengetahuinya saat kita masih kecil kita selalu tahu apa yang kita inginkan, tapi semakin bertambah dewasa semuanya terlihat mustahil. Memang benar bahwa keajaiban hanya dimiliki oleh anak kecil, ya mungkin karena hanya mereka yang mempercayai itu, orang dewasa sudah terlalu "realistis" dan terbiasa dengan ketidakadilan kehidupan ini.
Aku sendiri sudah membaca buku ini saat terpuruk di tahun 2014, dan ya sedikit memberikan pencerahan. Tapi tidak bisa banyak menolong karena aku sadar kalau aku telah salah jalan. Dan saat itulah aku membuat kesepakatan dengan hatiku bahwa aku akan membuatnya menderita tapi hanya 4 tahun saja, dan setelah itu aku janji akan menuruti keinginnya untuk melakukan apapun yang disukainya.
"Katakan pada hatimu bahwa takut menderita itu lebih buruk daripada menderita itu sendiri. Dan bahwa tidak ada hati yang pernah menderita saat ia mengejar mimpi-mimpinya, karena setiap detik dari pencarian itu adalah detik perjumpaan dengan Tuhan dan dengan keabadian." The Alchemist – Paulo Coelho

  • Share:

You Might Also Like

0 comments