Dear my dreams,
halo, apa kabar kamu?
aku nggak tau kabar kamu gimana sekarang, karena kamu ga muncul lagi.
Kamu dimana sih?
jangan sembunyi dong, aku nggak bisa nemuin kamu.
aku tau kamu ngerasa nggak dapet tempat disini, tapi plis jangan pergi dulu.
di dunia ini mungkin kalo aku ga punya apa-apa, tapi Allah nunjukkin kamu, aku masih bisa survive.
sebaliknya meski aku punya semuanya, kalo kamu ga sama aku, itu artinya aku ga hidup.
maaf aku ga pernah berusaha buat nemuin kamu, aku ga sedang sibuk kok, sama sekali ga sesibuk itu.
Kesini dong, kamu harus disini buat ingetin aku, janjiku dulu, semangatku dulu buat mengejar kamu.
tapi maaf kalo sekarang aku ga begitu mengenalmu, aku bahkan gatau aku atau kamu yang berubah, rasanya pengen memutar balik waktu buat inget kamu.
halo, apa kabar kamu?
aku nggak tau kabar kamu gimana sekarang, karena kamu ga muncul lagi.
Kamu dimana sih?
jangan sembunyi dong, aku nggak bisa nemuin kamu.
aku tau kamu ngerasa nggak dapet tempat disini, tapi plis jangan pergi dulu.
di dunia ini mungkin kalo aku ga punya apa-apa, tapi Allah nunjukkin kamu, aku masih bisa survive.
sebaliknya meski aku punya semuanya, kalo kamu ga sama aku, itu artinya aku ga hidup.
maaf aku ga pernah berusaha buat nemuin kamu, aku ga sedang sibuk kok, sama sekali ga sesibuk itu.
Kesini dong, kamu harus disini buat ingetin aku, janjiku dulu, semangatku dulu buat mengejar kamu.
tapi maaf kalo sekarang aku ga begitu mengenalmu, aku bahkan gatau aku atau kamu yang berubah, rasanya pengen memutar balik waktu buat inget kamu.
Nemu post ini dari grup Line iCampus, dan ngena banget buat aku yang selalu berwacana._.
GENERASI WACANA
oleh Rhenald Kasali
Saya sering kasihan melihat anak-anak muda yang makin pintar tetapi hidupnya galau. Penyebabnya beragam. Misalnya, karena hal sepele saja. Belum lagi tamat SMA, mereka sudah dikejar-kejar orang tuanya, "Mau kuliah di mana? Swasta atau negeri?"
Bahkan, sampai menjelang lulus SMA sekalipun, masih banyak yang bingung mau kuliah di mana dan jurusan apa? Jangan heran kalau banyak yang salah jurusan.
Bahkan, sarjana nuklir pun berkarir di bank, sarjana pertanian jadi wartawan, dan seterusnya. Susah-susah kuliah di fakultas kedokteran, namun begitu lulus maunya jadi motivator.
Karena sejak awal sudah galau, setelah lulus tetap galau. Generasi ini pada gilirannya bermetamorfosis menjadi generasi wacana. Jadi, karena dulu selalu galau, setelah lulus hanya mampu berwacana. Ribut melulu. Paling jauh cuma bisa berbuat heboh di media sosial, membuat meme, tetapi tidak berani bertindak. Apalagi menggambil keputusan.
SUARANYA LANTANG
Indikatornya simpel. Kita bisa dengan mudah menemukan mereka dimana-mana. Contohnya begini. Ada dahan yang patah dan menghalangi jalan. Lalu lintas pun jadi macet. Apa yang dilakukan generasi wacana? Dengan gadgetnya, mereka memotret dahan itu. Juga memotret kemacetan yang terjadi. Lalu, mengunggahnya ke media sosial, tentu disertai dengan komentar. Isinya kritik. "Dimana dinas pertamanan kita? Ada dahan yang tumbang kok didiamkan!" Lalu, ketika hasil unggahannya dikomentari banyak orang, senangnya bukan main.
Begitulah potret generasi wacana. Padahal, kalau mau membantu, dia bisa menyingkirkan dahan tersebut dari jalan. Tidak hanya berwacana. Begitulah kita juga saksikan sikap mereka terhadap asap. Itu hanya satu contoh. Contoh lainnya ada dimana-mana.
Sebagian generasi wacana tersebut memasuki dunia kerja. Karir beberapa di antara mereka meningkat dan menduduki posisi-posisi penting. Kalau diperusahaan swasta, mereka itulah yang berteriak paling keras ketika kondisi ekonomi menjadi lebih sulit. Misalnya, ketika pemerintah mengubah kebijakan atau ketika rupiah melemah/kembali menguat seperti sekarang ini.
Kalau didunia politik, mereka ributnya minta ampun. Persis seperti anggota DPR kita. Biasanya kritik sana, kritik sini, tetapi pekerjaan utamanya, seperti membuat undang-undang, malah tidak diurus.
Kalau dilingkungan pemerintahan, mereka adalah orang-orang yang sibuk mengamankan posisi dan cari adu selamat. Caranya? Adu pintar debat dan lihai membangun argumentasi. Mereka sangat pintar kalau soal ini. Tetapi, nyalinya langsung menciut ketika ditantang untuk mengambil keputusan.
Akibatnya, kita merasakan dampaknya. Penyerapan anggaran akan terus sangat rendah dan kinerja perekonomian kita melambat. Kalau pemerintah saja tidak punya nyali, apalagi kalangan swasta.
WE CHANGE
Kalau mau melihat masa depan suatu negara, lihatlah generasi mudanya. Kalau generasi mudanya mudah galau, hanya bisa berwacana, bisa ditebak kelak seperti apa nasib negaranya. Kata banyak orang, karena galau dan sibuk berwacana, negara kita tertinggal sepuluh tahun dari negara-negara lain.
Contoh gampang. Lihatlah jalan tol kita. Kita membangun jalan tol sejak 1973. Lebih dahulu ketimbang Malaysia dan Tiongkok. Tapi coba lihat berapa panjang jalan tol yang telah kita bangun.
Malaysia mulai membangun jalan tol pada 1990. Namanya jalan tol Anyer Hitam. Panjangnya sekitar 10 kilometer. Itu pun yang mengerjakan adalah BUMN kita, PT Hutama Karya. Kini panjang tol di Malaysia sudah mencapai 3.000 kilometer.
Tiongkok pun baru membangun. Jalan tol pertama pada 1990. Jalan tol pertama yang mereka bangun bernama Shenda, menghubungkan dua kota, Shenyang dan Dalian. Kini Tiongkok sudah memiliki jalan tol sepanjang 85 ribu kilometer. Anda tahu berapa panjang jalan tol yang sudah kita bangun hingga saat ini? Belum sampai 900 kilometer! Begitulah kalau negara lain sibuk membangun, kita sibuk berwacana lantaran tidak berani mengambil keputusan.
Jawa Pos,
17 Oktober 2015
GENERASI WACANA
oleh Rhenald Kasali
Saya sering kasihan melihat anak-anak muda yang makin pintar tetapi hidupnya galau. Penyebabnya beragam. Misalnya, karena hal sepele saja. Belum lagi tamat SMA, mereka sudah dikejar-kejar orang tuanya, "Mau kuliah di mana? Swasta atau negeri?"
Bahkan, sampai menjelang lulus SMA sekalipun, masih banyak yang bingung mau kuliah di mana dan jurusan apa? Jangan heran kalau banyak yang salah jurusan.
Bahkan, sarjana nuklir pun berkarir di bank, sarjana pertanian jadi wartawan, dan seterusnya. Susah-susah kuliah di fakultas kedokteran, namun begitu lulus maunya jadi motivator.
Karena sejak awal sudah galau, setelah lulus tetap galau. Generasi ini pada gilirannya bermetamorfosis menjadi generasi wacana. Jadi, karena dulu selalu galau, setelah lulus hanya mampu berwacana. Ribut melulu. Paling jauh cuma bisa berbuat heboh di media sosial, membuat meme, tetapi tidak berani bertindak. Apalagi menggambil keputusan.
SUARANYA LANTANG
Indikatornya simpel. Kita bisa dengan mudah menemukan mereka dimana-mana. Contohnya begini. Ada dahan yang patah dan menghalangi jalan. Lalu lintas pun jadi macet. Apa yang dilakukan generasi wacana? Dengan gadgetnya, mereka memotret dahan itu. Juga memotret kemacetan yang terjadi. Lalu, mengunggahnya ke media sosial, tentu disertai dengan komentar. Isinya kritik. "Dimana dinas pertamanan kita? Ada dahan yang tumbang kok didiamkan!" Lalu, ketika hasil unggahannya dikomentari banyak orang, senangnya bukan main.
Begitulah potret generasi wacana. Padahal, kalau mau membantu, dia bisa menyingkirkan dahan tersebut dari jalan. Tidak hanya berwacana. Begitulah kita juga saksikan sikap mereka terhadap asap. Itu hanya satu contoh. Contoh lainnya ada dimana-mana.
Sebagian generasi wacana tersebut memasuki dunia kerja. Karir beberapa di antara mereka meningkat dan menduduki posisi-posisi penting. Kalau diperusahaan swasta, mereka itulah yang berteriak paling keras ketika kondisi ekonomi menjadi lebih sulit. Misalnya, ketika pemerintah mengubah kebijakan atau ketika rupiah melemah/kembali menguat seperti sekarang ini.
Kalau didunia politik, mereka ributnya minta ampun. Persis seperti anggota DPR kita. Biasanya kritik sana, kritik sini, tetapi pekerjaan utamanya, seperti membuat undang-undang, malah tidak diurus.
Kalau dilingkungan pemerintahan, mereka adalah orang-orang yang sibuk mengamankan posisi dan cari adu selamat. Caranya? Adu pintar debat dan lihai membangun argumentasi. Mereka sangat pintar kalau soal ini. Tetapi, nyalinya langsung menciut ketika ditantang untuk mengambil keputusan.
Akibatnya, kita merasakan dampaknya. Penyerapan anggaran akan terus sangat rendah dan kinerja perekonomian kita melambat. Kalau pemerintah saja tidak punya nyali, apalagi kalangan swasta.
WE CHANGE
Kalau mau melihat masa depan suatu negara, lihatlah generasi mudanya. Kalau generasi mudanya mudah galau, hanya bisa berwacana, bisa ditebak kelak seperti apa nasib negaranya. Kata banyak orang, karena galau dan sibuk berwacana, negara kita tertinggal sepuluh tahun dari negara-negara lain.
Contoh gampang. Lihatlah jalan tol kita. Kita membangun jalan tol sejak 1973. Lebih dahulu ketimbang Malaysia dan Tiongkok. Tapi coba lihat berapa panjang jalan tol yang telah kita bangun.
Malaysia mulai membangun jalan tol pada 1990. Namanya jalan tol Anyer Hitam. Panjangnya sekitar 10 kilometer. Itu pun yang mengerjakan adalah BUMN kita, PT Hutama Karya. Kini panjang tol di Malaysia sudah mencapai 3.000 kilometer.
Tiongkok pun baru membangun. Jalan tol pertama pada 1990. Jalan tol pertama yang mereka bangun bernama Shenda, menghubungkan dua kota, Shenyang dan Dalian. Kini Tiongkok sudah memiliki jalan tol sepanjang 85 ribu kilometer. Anda tahu berapa panjang jalan tol yang sudah kita bangun hingga saat ini? Belum sampai 900 kilometer! Begitulah kalau negara lain sibuk membangun, kita sibuk berwacana lantaran tidak berani mengambil keputusan.
Jawa Pos,
17 Oktober 2015
Tidak usah meyuruhku berbicara, aku sudah memilih diam.
Tidak usah mengajariku cara bermimpi, aku sudah punya banyak.
Tidak usah mendikte apa yang sebaiknya aku lakukan, aku sudah mafhum dengan semua itu.
Tidak usah menyuruhku bertanya, aku sudah mendapat jawabannya.
Tidak usah mengajariku cara bermimpi, aku sudah punya banyak.
Tidak usah mendikte apa yang sebaiknya aku lakukan, aku sudah mafhum dengan semua itu.
Tidak usah menyuruhku bertanya, aku sudah mendapat jawabannya.
Dear GPASN, tidak terasa ya sudah berlalu 5 tahun dari tanggal 9 Oktober
2010 :”) hmm bener juga kalau dipikir-pikir, dulu waktu masih “dalam
proses” itu, kita penasaran kedepannya akan seperti apa, akan kuliah
dimana kita, mengenakan jaket almamater warna apa, tinggal di kota mana,
merantau ataukah masih menetap di semarang, haha tapi sekarang kita
sudah one step forward dari kemarin, semua itu sedang kita jalani saat
ini, kita kuliah di universitas dan institusi kebanggaan kita
masing-masing, menjalani peran sebagai mahasiswa di tempat kita
masing-masing, dan memiliki tujuan untuk mengejar mimpi kita
masing-masing, mungkin sekarang kita sudah tidak bisa setiap hari
bertegur sapa seperti dulu, berkabar pun hanya jika memiliki waktu
senggang via grup Line, tapi satu hal yang pasti kita masih GPASN yang
dulu, GPASN yang sama, yang peduli dan mendukung satu sama lain, mungkin
setelah melewati fase ini, kita akan menuju ke fase kehidupan
selanjutnya yang lebih menguras pikiran. Jika saat ini mimpi yang sedang
kita perjuangkan terasa penuh dengan hambatan, dan tanggung jawab yang
semakin bertambah seiring kompleks kehidupan yang kita jalani, serta
kehidupan yang semakin menguji idealisme yang kita miliki, ingatlah
bahwa semua itu akan berhasil kita lewati seperti sebelumnya. Terkadang
kita hanya perlu menjalani dan mafhum atas apa yang telah termaktubkan.
Hm, aku percaya suatu hari nanti kita akan berkumpul lengkap, full team,
dengan membawa kebanggaan kita masing-masing. Dan sampai saat itu tiba,
kita harus berjuang bersama-sama dengan menjalani takdir di tempat kita
masing-masing. Karena kita akan selalu berusaha mencapai kebenaran
sempurna, menjadi prajurit tertinggi yang gagah berani, senantiasa
sopan, beradab, dan berbudi pekerti luhur :’)
Masih di Semarang,
Humas III
Dear My Dreams, I'm
sorry for never becoming you as a big ball in my life. I never put you first
into my stoples. I don't know what I've been doing until never do the things
that I really want to do. I just want to keep you, hug you as long as I breath
in my life. If there are many things that distracting me from you, so far away.
Could we went to somewhere in such a way until nothing will separate us
anymore?
Kenapa harus sedih? Padahal jelas-jelas kita yang salah. Sesuatu terjadi
bukan karena kebetulan, semua pasti ada sebabnya. Kalau kita kecewa
karena keadaan, hal itu terjadi karena kita yang telah membiarkannya
terjadi, entah sadar atau tidak. Kalau kita harus merelakan sesuatu yang
kita inginkan, itu karena kita yang berhenti untuk memperjuangkannya,
entah menyerah atau pasrah. Sesederhana itu. Tapi menyakitkan.
Kita lahir di dunia ini sendiri, kecuali anak kembar, dan mati pun pasti juga sendiri-sendiri. Karena kita memang manusia yang diciptakan untuk memikul tanggung jawab kehidupan sendiri. Meskipun dalam kenyataannya kita memiliki keluarga, teman, atau bahkan nanti pasangan, namun sejatinya dalam menjalani hidup ini kita hanya seorang diri hingga pada waktunya masing-masing kita bertemu dengan manusia-manusia lain dan meninggalkan manusia lainnya. Pertemuan kita dengan seorang manusia pun bukanlah suatu kebetulan, melainkan takdir yang telah digariskan. Kita dilahirkan di sebuah keluarga, menjadi seorang anak, itu adalah takdir. Kita memang tidak dapat memilih dimana kita akan dilahirkan, menjadi anak orang kaya atau miskin, tinggal di negara maju atau berkembang, memiliki wajah rupawan atau tidak, sama sekali bukan kita yang menentukan. Allah yang telah memberikan anugerah kehidupan ini untuk kita jalani, ya hanya tinggal menjalani. Jika semua "sudah diatur" lantas apa perlunya kita merisaukan yang telah dituliskan? Dan pasti ada tujuan penciptaan kita karena kita tidak mungkin "ada" jika tanpa maksud. Kitalah yang harus mengartikan maksud tersebut, menemukan tujuan hidup kita. Setiap manusia hidup dengan tujuan masing-masing, yang satu berbeda garis hidup dengan yang lainnya. Jadi tidak perlu risau dengan jalan hidup yang kita jalani, toh juga ujungnya sama bukan? Terima saja apa yang kita "miliki" di dunia ini, toh juga nantinya kita akan menanggungnya sendiri-sendiri bukan? Jangan terlalu memikirkan manusia lain, karena kita memiliki urusan yang berbeda-beda.
Bahkan daun yang gugur sendiri pada detik ini pun telah digariskan.
Bahkan daun yang gugur sendiri pada detik ini pun telah digariskan.
Untuk kali pertama dalam hidupku, aku mulai mengerti atau mungkin baru menyadari arti uang. Uang memang bukanlah segalanya, namun di dunia yang fana ini seakan segalanya yang kita inginkan bisa diperoleh dengan uang, termasuk mimpi kita. Bukan bermaksud untuk mengajari menjadi budak kapitalis, tapi ayolah berpikir logis. Coba kita cek daftar "hal yang paling kita inginkan dalam hidup" hampir semuanya berkaitan dengan "sesuatu yang bisa dibeli atau didatangi dengan menukar sejumlah uang yang kita miliki dengan itu". Kesuksesan kita secara tidak langsung juga dikaitkan dengan seberapa banyak uang yang kita miliki. All about money. Sadar atau tidak, kita digerakkan oleh "kekuatan duniawi" yang menjadikan uang segala-galanya. Manusia memang makhluk pencipta dan pemberi nilai. Seolah-olah nilai yang diciptakan manusia seakan bisa digunakan untuk menakar semua yang ada di dunia, padahal sejatinya nilai itu hanya asumsi yang manusiawi, entah menjadi berarti atau tidak sama sekali. Aku jadi berpikir ketika manusia belum menemukan uang, apa hal yang paling penting bagi manusia saat itu? Hm mungkin keluarga, makanan, atau wilayah kekuasaan? Entahlah. Ketika kita berada di posisi yang belum mapan, dan kita membutuhkan uang untuk mewujudkan salah satu impian kita, ingatlah bahwa saat ini bukanlah hal itu yang terpenting, kita boleh saja bersikeras dengan mengusahakannya melalui berbagai cara, seperti sponsorship maupun donasi, namun jika kita belum berhasil karenanya, satu hal yang perlu kita ingat adalah bila kita telah melewati fase ini dan bergerak ke fase kemapanan, jangan jadikan uang tujuan hidup kita. Uang hanyalah alat tukar kebahagiaan fana untuk kita dapat berbuat baik dan memberi makna pada kehidupan yang berarti di dunia, bagi orangtua, saudara, keluarga, sahabat, dan orang terkasih yang kita sayangi. Manfaatkanlah uang yang kita miliki untuk menggapai kebahagiaan dunia akhirat. Aamiin.
Kadang menyerah bukan berarti kalah. Menyerah memang bukan pilihan dalam hidup, tapi kadang ia menjadi jawaban atas keinginan. Ketika kita berdoa memohon hal yang paling kita inginkan, lantas terkabul, namun kemudian dalam prosesnya mendapat hambatan dan urung terwujud, hal itulah yang akan membuat kita sadar bahwa doa kita belum mendapat jawaban sepenuhnya. Seringkali kita hanya meminta kepada Allah tanpa memikirkan waktu dan kondisi kita saat itu, yang kita inginkan hanya angan yang menguasai pikiran itu bisa segera terwujud. Ketika kita sangat jenuh dengan kehidupan yang kita jalani, kita meminta sesuatu yang kita harap akan membukakan jalan untuk keluar dari "hidup yang membosankan" itu. Padahal kita belum siap untuk menempuh jalan itu, atau mungkin kita belum benar-benar bisa untuk berusaha mencapainya. Di saat seharusnya kita masih berproses pada jalan hidup kita yang sekarang, justru kita ingin menempuh jalur cepat yang kita harapkan sampai ke tujuan yang kita inginkan. Kadang kita hanya membutuhkan kesabaran dalam menjalani apa yang ada di hadapan kita saat ini, bukan malah terburu-buru untuk cepat sampai ke tujuan. Mungkin jalan yang sedang kita lalui bukanlah jalan yang benar-benar bisa membuat kita untuk berlari kencang, tapi percayalah meskipun dengan berjalan lambat jika memang Allah menghendaki kita sampai ke tujuan, maka kita akan sampai dengan selamat. Tetap istiqamah di jalan Allah adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini.


